Teman tapi Kambing

Sinetron is fake. Mungkin benar. Tapi asli, tadi malam ada sinetron bagus. Bioskop Indonesia di Trans TV, judulnya Teman tapi Kambing. Bukan kisah cinta-cintaan muda-mudi. Bukan pula misteri, sundel bolong di siang bolong, dll. Bukan pula yang berbau “hidayah2”-an. Bukan, bukan itu. Ceritanya tentang anak SD supel dan jahil bernama Odi yang berteman baik dengan Oden, seekor kambing. Ia bertemu dengan Oden secara tidak sengaja saat ia kabur dari rumah, sehabis ia dimarahi kakaknya. Odi memang sebel, karena kakaknya, cewek , tiba2 berubah watak menjadi cerewet dan pemarah. Padahal tadinya baik banget. Perubahan itu terjadi seminggu setelah ibu mereka meninggal. Pasalnya si Odi minta kakaknya masak menggantikan ibunya selama ini. Nggak mau makan mi terus katanya. Tapi si kakak malah marah. Emosinya sangat labil tertelan kesedihan sepeninggal ibunya. Padahal si Odi minta kakaknya masak biar nggak terlarut terus dalam kesedihan. Tapi kakaknya nggak ngerti. Setahu dia, Odi jadi anak yang nakal.

Terus mana kambingnya? Lha itu? Wah nggak usah mesem gitu dong..

Yup, setelah bertemu, si Oden dibawa pulang Odi. Mereka jadi akrab banget. Tidur bareng. Mandi bareng. Maen bareng. Ke mana2 bareng. Bahkan ke sekolah pun Oden ikut. Mereka soulmate lah. Tapi si Oden nggak bisa ngomong loh.. Ini bukan sinetron Legenda, bung!!

Oia, perubahan sikap kakak si Odi berbeda dengan kakak si Ndut, anak cewek temen sekelas Odi. Kakak si Ndut juga berubah sepeninggal ibunya, tapi berubah menjadi ‘super sayang’ sama adiknya, protektif banget. Dalam hati, si Odi pengin kalau kakaknya itu juga tetap sayang, bahkan lebih sayang, untuk mengisi rongga jiwa yang selama ini diisi cinta ibunya. Saat rongga itu tak juga terisi, datanglah Oden sebagai penghiburnya. Makanya Odi sayang banget sama Oden. Saya kira itu pesan inti dari sinetron ini. Setiap jiwa seorang anak itu berongga, rapuh, yang harus selalu diisi cinta dari ibunya. Saat ibu meninggal rongga itu kosong,  sehingga secara naluriah ia akan mencari pengganti untuk mengisinya. Ia akan mencari figur pengganti yang mengerti betul perasaannya saat itu. Biasanya ke orang yang juga mengalami hal yang sama dengannya. Kakaknya. Bukan ayah. Teman yang pernah mengalami, tentu mengiyakan. Saya juga pernah mengalaminya. Saya bisa merasakannya pada  adik saya saat itu sampai sekarang, dan saya rasakan pada saya sendiri. Kakak saya pun pasti merasakannya. Saat itu Mei  hampir setahun yang lalu. Ibu memang tak tergantikan.

I want her everywhere, and if she’s beside me

i know I need never care,

but to love her is to meet her everywhere,

knowing that love is to share,

each one believing that love never dies,

watching her eyes and hoping i’m always there.


(Here, There, and Everywhere – The Beatles)

13 Responses to “Teman tapi Kambing”


Leave a Reply